Halaman

Tampilkan postingan dengan label Layu Fusarium. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Layu Fusarium. Tampilkan semua postingan

Minggu, 11 Maret 2018

LAYU BAKTERI (FUSARIUM)

Layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum, umumnya menyerang tanaman cabai, tomat, kentang, dan sebagainya. Bakteri menginfeksi tanaman melalui luka yang disebabkan olek pelukaan mekanis, infeksi cendawan (fusarium), serangan nematoda dan hama pada akar. Bakteri bersifat tular tanah (soilborne) dan tular air (waterborne) dan dapat bertahan pada sisa tanaman sakit.

Gejala :
1. Layu secara tiba-tiba, umumnya dimulai dari bagian pucuk. Tanaman kembali segar pada pagi atau sore hari.
2. Terdapat bercak cokelat pada pembuluh di pangkal batang dan berbau busuk.
3. Keluar cairan putih susu ketika potongan batang segar dicelup dalam air.

Kondisi yang mendukung perkembangan penyakit :
1 suhu tinggi (30˚ – 35˚C) dan kelembaban tinggi
2. tanah bertekstur liat yang menahan air dalam waktu lama.
3. Bakteri disebarkan oleh aliran irigasi, bibit terinfeksi, pelukaan dan pemangkasan.

Pengendalian LayuBakteri :
1. Hindari menanam pada lahan yang endemik.
2. Hindari pelukaan akar dan kendalikan jamur, nematoda atau hama yang menyerang akar.
3. Lakukan pengolahan tanah dengan baik. Lakukan sterilisasi untuk lahan-lahan yang berpotensi layu. Aplikasi kompos dan agensia hayati pengendali layu (Trichoderma).
4. Menanam varietas tahan mampu mengurangi potensi penyakit.
5. Sterilisasi lahan dengan fumigan (Basamid).
6. Cabut tanaman yang terserang dan taburi lubang tanam dengan kapur, kocor bakterisida, fungisida, maupun nematisida untuk mencegah penyebaran penyakit. Semprot bakterisida ke seluruh tanaman secara merata.

Semoga bermanfaat

Jumat, 09 Maret 2018

PENYAKIT LAYU (PATEK) PADA CABAI DAN CARA MENGATASINYA

Seperti beberapa pertanyaan dari sahabat tani cabai yang sering mengeluhkan tanaman cabai nya layu dan mati.
Dan Beberapa pertanyaan tentang apakah ada obat untuk menyembuhkan / menanggulangi masalah layu pada cabe ini, mari bersama sama Kita bahas dan cari sistem penanggulangan , pencegahan dan pengendalian penyakit layu cabe yang sangat merugikan Kita sebagai petani cabe.

Sebelumnya, lebih baik kita lihat dulu Gejalanya, Penyebabnya dan ciri ciri tanaman cabe yang terkena penyakit layu ini.

Berdasarkan pengalaman di lapangan / pendampingan, mungkin Kita bisa menyimpulkan bahwa penyakit layu pada tanaman cabe ada 2 macam yaitu Layu Fusarium & Layu Bakteri / Parasit (Patek)

1. LAYU FUSARIUM

PENYEBABNYA :
Penyakit layu fusarium disebabkan oleh Fusarium Oxysporum.

Penyakit layu jenis ini ditakuti karena jika tanaman sudah terinfeksi, tanaman tersebut tidak bisa diobati atau disembuhkan alias dijamin mati.
Penyakit layu fusarium bisa menghabisi seluruh tanaman  cabe dan menyebabkan gagal panen.
Layu fusarium ini bisa menyerang kapan saja dan di mana saja, baik di musim kemarau maupun pada musim hujan. Namun serangan Fusarium yang paling mengerikan biasanya terjadi pada musim hujan dengan kelembaban yang tinggi. Karena pada iklim dan kondisi hujan itu cendawan Fusarium sangat mudah berkembang biak dan mudah menular.
Penyebaran cendawan Fusarium ini dibantu oleh air, peralatan pertanian yang sering Kita gunakan dan Kita sendiri selaku petani.
Pertumbuhan spora cendawan Fusarium mempengaruhi pasokan air sehingga tanaman menjadi layu dan mati secara perlahan. Penyakit layu fusarium bisa menyerang mulai dari pembibitan, tanaman muda hingga tanaman yang sudah berproduksi.

GEJALA LAYU FUSARIUM :

Gejala yang terjadi pada pembibitan cabe adalah pucuk daun tanaman yang tiba-tiba layu dan mati.
Gejala serangan layu fusarium pada tanaman muda dan tanaman dewasa adalah jika terdapat tanaman cabe yang layu pada siang hari, entah daun atau batang tanaman cabe dan kemudian tanaman cabe itu kelihatan segar kembali pada sore harinya.
Itu sudah bisa dipastikan 98% terkena penyakit Layu Fusarium ini.
Fenomena seperti itu biasanya  berlangsung kurang lebih selama 6 -7 hari sebelum akhirnya tanaman cabe itu mengering dan mati.

Jika tanaman dicabut terlihat akar berwarna kecoklatan dan membusuk.
Jika pangkal batang dibelah terlihat lingkaran coklat kehitaman. Lingkaran berwarna coklat kehitaman tersebut adalah pembuluh pengangkut yang telah rusak dan membusuk.

PENGENDALIAN :

Beberapa tindakan yang bisa Kita lakukan untuk mengendalikan layu fusarium, yaitu :
A. Pengolahan lahan yang baik
B. Sanitasi yang baik
C. Penggunaan benih yang tahan terhadap fusarium
D. Menggunakan mulsa plastik,
E. Memusnahkan tanaman yang terinfeksi Fusarium
F.  Aplikasi trichoderma.
G. Tidak ada bahan aktif / obat / fungisida / insektisida yang benar-benar ampuh mengatasi layu fusarium. Tapi tidak ada salahnya untuk mencoba fungisida berbahan aktif benomil atau metalaksil.

CARA PENCEGAHAN :

JANGAN TAKUT, karena Kita ada pencegahan penyakit Layu Fusarium ini, yaitu :
A.  Bajak / cangkul lahan calon tanaman Cabe dengan rata dan di taburi dolomit, NPK dan Urea secukupnya.
B.  2 hari setelah proses pengolahan lahan dan pemupukan itu, lalu di berikan pupuk kandang dan di tabur / di kocor Glio, PWRK dan SPRK pada tanah yang akan kita jadikan bedengan.
C.  Setelah bedengan jadi, siram dan di kocor lagi dengan Glio dan PWRK lalu di tutup pakai plastik mulsa.  Dan di buat lobang tanam sekitar 50x90 cm atau 50x70cm.
Diamkan selama 1 hari dulu.
D.  Pilih benih dari genetik yang baik dan kuat terhadapnya Fusarium, jika Kita petani , Kita bisa buat benih dari hasil panen sebelumnya.
E.  Setelah 1 hari, lalu kocor tiap lobang tanam tadi dengan GLIO, SPRK dan PWRK. Setelah itu masukkan bibit cabe ke tiap lobang tanam tadi.
D.  Setelah 6 hari tanam, lakukan penyemprotan pada bibit tanaman cabe dengan menggunakan PST / NPA.
E.  Setelah 10 hari sejak tanam, kocor lagi tiap lobang tanam cabe tadi dengan Glio, PWRK dan SPRK lagi. Lakukan secara kontinyu dengan interval 10 hari sekali.
F.  Bersihkan sampai benar benar bersih setiap alat pertanian yang telah Kita gunakan dengan air dan sabun atau Antibiotik.

2. LAYU BAKTERI

PENYEBAB :
Penyebab penyakit layu bakteri pada tanaman cabe adalah bakteri Pseudomonas Solanacearum. Bakteri parasit ini menyerang dan menginfeksi area akar tanaman, pangkal batang, tunas, daun dan batang tanaman cabe.

Bakteri Pseudomonas menginfeksi akar dan menyebabkan akar tanaman membusuk dengan ciri ciri ada bintik bintik putih di akar juga sudah sebagian akar busuk.

Penyebaran bakteri ini dibantu oleh air, peralatan pertanian dan manusia. Pada kondisi tanah yang terlalu basah dan lembab, bakteri Pseudomonas solanacearum mudah dan cepat berkembang biak. Bakteri parasit ini menyerang pada semua fase pertumbuhan, mulai dari pembibitan hingga tanaman dewasa.

GEJALA LAYU BAKTERI :

Gejala awalnya serangan bakteri Pseudomonas ini terlihat jika terdapat bagian tanaman yang tiba-tiba layu. Pada awalnya serangan bakteri ini TIDAK menyebabkan tanaman cabai layu secara keseluruhan, melainkan hanya beberapa bagian tanaman saja baik itu pucuk daun, tunas atau daun tua. Kemudian tanaman cabe akan layu secara keseluruhan dan akhirnya mati. Layu bakteri terjadi relatif lebih cepat, hanya butuh waktu sekitar 2 - 3 hari sampai tanaman cabai kering dan mati. Berbeda dengan layu fusarium, tanaman yang terinfeksi Pseudomonas tetap layu pada malam hari maupun siang hari. Gejala yang terjadi pada akar tanaman cabai relatif sama dengan serangan jamur Fusarium oxysporum, yaitu akar membusuk dan berwarna kecoklatan.
Serangan bakteri parasit ini sering terjadi pada musim hujan dengan kondisi tanah yang lembab dan penuh genangan air.

PENGENDALIAN :
Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit layu bakteri, yaitu :
A.  Pengolahan lahan yang baik
B.  Sanitasi yang baik
C.  Penggunaan benih yang tahan terhadap bakteri Pseudomonas
D.  Pergiliran tanaman
E.  Menggunakan mulsa plastik, terutama pada musim hujan
F.  Memusnahkan tanaman cabe yang terinfeksi
G.  Pengocoran dan penyemprotan bakterisida.

CARA PENCEGAHAN :

JANGAN TAKUT, karena Kita ada pencegahan penyakit Layu Bakteri ini, yaitu :
A.  Bajak / cangkul lahan calon tanaman Cabe dengan rata dan di taburi dolomit, NPK dan Urea secukupnya.
B.  2 hari setelah proses pengolahan lahan dan pemupukan itu, lalu di berikan pupuk kandang dan di tabur / di kocor Glio, PWRK dan SPRK pada tanah yang akan kita jadikan bedengan.
C.  Setelah bedengan jadi, siram dan di kocor lagi dengan Glio dan PWRK lalu di tutup pakai plastik mulsa.  Dan di buat lobang tanam sekitar 50x90 cm atau 50x70cm.
Diamkan selama 1 hari dulu.
D.  Pilih benih dari genetik yang baik dan kuat terhadapnya Fusarium, jika Kita petani , Kita bisa buat benih dari hasil panen sebelumnya.
E.  Setelah 1 hari, lalu kocor tiap lobang tanam tadi dengan GLIO, SPRK dan PWRK. Setelah itu masukkan bibit cabe ke tiap lobang tanam tadi.
D.  Setelah 6 hari tanam, lakukan penyemprotan pada bibit tanaman cabe dengan menggunakan PST / NPA.
E.  Setelah 10 hari sejak tanam, kocor lagi tiap lobang tanam cabe tadi dengan Glio, PWRK dan SPRK lagi. Lakukan secara kontinyu dengan interval 10 hari sekali.
F.  Bersihkan sampai benar benar bersih setiap alat pertanian yang telah Kita gunakan dengan air dan sabun atau Antibiotik.

Bagaimana cara membedakan layu bakteri dengan layu fusarium ?

Gejala yang ditimbulkan oleh kedua organisme pengganggu tanaman cabe ini sangat mirip dan hampir sulit dibedakan.

Perhatikan tanaman cabe yang layu tersebut, apakah tanaman tiba-tiba layu secara keseluruhan atau tidak.
Jika tanaman tiba-tiba layu secara keseluruhan itu berarti layu fusarium.
Tetapi jika pada awalnya layu hanya terjadi pada beberapa bagian tanaman saja berarti layu akibat bakteri.

Cara lain untuk mengidentifikasi dengan mudah adalah dengan memotong bagian tanaman yang terserang, kemudian dicelupkan kedalam air bersih. Jika dari potongan tanaman tersebut keluar seperti asap putih, berarti tanaman tersebut terserang bakteri Pseudomonas / layu bakteri.
Jika tidak keluar asap putih berarti tanaman terserang layu Fusarium.

Nah, dengan mengetahui jenis penyakit layu dan cara pencegahannya , Kita bisa semakin berhati hati dan melakukan pencegahan sebaik baiknya agar tanaman cabe Kita panen dengan melimpah.

Semoga Bermanfaat ...

Rabu, 07 Maret 2018

CARA BUDIDAYA TANAMAN CABAI

TEKNIS BUDIDAYA CABE ORGANIK NASA

Paket Pupuk Yang Terbukti Bagus Meningkatkan Hasil Panen Cabai :
- SUPERNASA = Pupuk penyubur tanah,
- POWER NUTRITION = pupuk perangsang buah.
- POC NASA = pupuk daun / nutrisi organik
- HORMON ORGANIK = zat perangsang tumbuh
- AERO = perekat, perata, pembasah bisa berfungsi perusak telur hama
- NATURAL GLIO = pemberantas penyakit
- NATURAL BVR & CORRIN = pestisida biologi pengendali hama.

A. PENDAHULUAN
Cabai dapat ditanam di dataran tinggi maupun rendah, pH 5-6. Bertanam cabai dihadapkan dengan berbagai masalah (resiko), diantaranya, teknis budidaya, kekurangan unsur, serangan hama dan penyakit, dll.
PT. Natural Nusantara ( NASA ) berupaya membantu penyelesaian masalah tersebut, agar terjadi peningkatan produksi cabai secara kuantitas, kualitas dan kelestarian ( K-3 ), sehingga petani dapat berkompetisi di era pasar bebas.

B. FASE PRATANAM
1. Pengolahan Lahan
» Tebarkan pupuk kandang dosis 0,5 -1 ton/ 1000 m2
» Diluku kemudian digaru (biarkan + 1 minggu)
» Diberi Dolomit sebanyak 0,25 ton / 1000 m2
» Dibuat bedengan lebar 100 cm dan parit selebar 80 cm
» Siramkan SUPERNASA (1 bt) / NASA(1-2 bt)
Super Nasa : 1 btl dilarutkan dalam 3 liter air (jadi larutan induk). Setiap 50 lt air tambahkan 200 cc larutan induk.
Atau 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 1 sendok makan peres SUPER NASA dan siramkan ke bedengan + 5-10 m.

NASA : 1 gembor ( + 10 liter ) diberi 2-4 tutup NASA dan siramkan ke bedengan sepanjang + 5 – 10 meter.
Campurkan GLIO 100 – 200 gr ( 1 – 2 bungkus ) dengan 50 – 100 kg pupuk kandang, sebarkan ke bedengan. Kemudian diamkan selama 1 minggu.
» Bedengan ditutup mulsa plastik dan dilubangi, jarak tanam 60 cm x 70 cm pola zig zag ( biarkan + 1 – 2 minggu ).

2. Benih
Kebutuhan per 1000 m² 1 – 1,25 sachet Natural CK -10 atau CK-11 dan Natural CS-20, CB-30.
Biji direndam dengan POC NASA dosis 0,5 – 1 tutup / liter air hangat kemudian diperam semalam.

C. FASE PERSEMAIAN ( 0 - 30 HARI)
1. Persiapan Persemaian
Arah persemaian menghadap ke timur dengan naungan atap plastik atau rumbia.
Media tumbuh dari campuran tanah dan pupuk kandang atau kompos yang telah disaring, perbandingan 3 : 1. Pupuk kandang sebelum dipakai dicampur dengan GLIO 100 gr dalam 25-50 kg pupuk kandang dan didiamkan selama -/+ 1 minggu. Media dimasukkan polibag bibit ukuran 4 x 6 cm atau contong daun pisang.

2. Penyemaian
Biji cabai diletakkan satu per satu tiap polibag, lalu ditutup selapis tanah + pupuk kandang matang yang telah disaring.
Semprot POC NASA dosis 1-2 ttp/tangki umur 10 s/d 17 HSS.
Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi atau sore hari untuk menjaga kelembaban

3. Pengamatan Hama & Penyakit
A. Penyakit
- Rebah semai (dumping off), gejalanya tanaman terkulai karena batang busuk , disebabkan oleh cendawan Phytium sp. & Rhizoctonia sp. Cara pengendalian:
Tanaman yg terserang dibuang bersama dengan tanah, mengatur kelembaban dengan mengurangi naungan dan penyiraman, jika serangan tinggi siram GLIO 1 sendok makan (± 10 gr) per 10 liter air.

Embun bulu
Ditandai adanya bercak klorosis dengan permukaan berbulu pada daun atau kotil yg disebabkan cendawan Peronospora parasitica.
Cara mengatasi seperti penyakit rebah semai.

Kelompok Virus
Gejalanya pertumbuhan bibit terhambat dan warna daun mosaik atau pucat. Gejala timbul lebih jelas setelah tanaman berumur lebih dari 2 minggu HST.
Cara mengatasinya :
Bibit yang telah terserang dicabut dan dibakar, semprot tanaman yang masih sehat dan tanaman sekitar lahan cabai dengan BVR atau PESTONA.

b. H a m a
Kutu Daun Persik (Aphid sp.), Perhatikan permukaan daun bagian bawah atau lipatan
pucuk daun, biasanya kutu daun persik bersembunyi di bawah daun. Pijit dengan jari koloni kutu yg ditemukan, semprot dengan BVR atau PESTONA.

Hama Thrip parvispinus
Gejala serangan daun berkerut dan bercak klorosis karena cairan daun diisap, lapisan bawah daun berwarna keperak-perakan atau seperti tembaga. Biasanya koloni berkeliaran di bawah daun. Pengamatan pada pagi atau sore hari karena hama akan keluar pada waktu teduh. Serangan parah semprot dengan BVR atau PESTONA untuk mengurangi penyebaran.

Hama Tungau (Polyphagotarsonemus latus). Gejala serangan daun berwarna kuning kecoklatan menggulung terpuntir ke bagian bawah sepanjang tulang daun. Pucuk menebal dan berguguran sehingga tinggal batang dan cabang. Perhatikan daun muda, bila menggulung dan mengeras itu tandanya terserang tungau. Cara mengatasi seperti pada Aphis dan Thrip

D. FASE TANAM
1. Pemilihan Bibit
Pilih bibit seragam, sehat, kuat dan tumbuh mulus
Bibit memiliki 5-6 helai daun (umur 21 – 30 hari)
2. Cara Tanam
Waktu tanam pagi atau sore hari , bila panas terik lebih baik ditunda.
Plastik polibag dilepas
Setelah penanaman selesai, tanaman langsung disiram /disemprot POC NASA 3-4 tutup/ tangki.

3. Pengamatan Hama
● Ulat Tanah ( Agrotis ipsilon )
Aktif malam hari untuk kopulasi, makan dan bertelur. Ulat makan tanaman muda dengan jalan memotong batang atau tangkai daun. Siang hari sembunyi dalam tanah disekitar tanaman terserang. Setiap ulat yang ditemukan dikumpulkan lalu dibunuh, serangan berat semprot dengan PESTONA atau VIREXI

● Ulat Grayak ( Spodoptera litura & S. exigua )
Ciri ulat yang baru menetas / masih kecil berwarna hijau dengan bintik hitam di kedua sisi dari perut/badan ulat, terdapat bercak segitiga pada bagian punggungnya (seperti bulan sabit). Gejala serangan, larva memakan permukaan bawah daun dan daging buah dengan kerusakan berupa bintil-bintil atau lubang-lubang besar. Serangan parah, daun cabai gundul sehingga tinggal ranting-rantingnya saja. Telur dikumpulkan lalu dimusnahkan, menyiangi rumput di sekitar tanaman yang digunakan untuk persembunyian. Semprot dengan VITURA, VIREXI atau PESTONA.

● Bekicot/siput.
Memakan tanaman, terutama menyerang malam hari. Dicari di sekitar pertanaman ( kadang di bawah mulsa) dan buang ke luar areal.

E. FASE PENGELOLAAN TANAMAN (7-70 HST)
Penyiraman dapat dilakukan dengan pengocoran tiap tanaman atau penggenangan (dilep) jika dirasa kering.
Pemupukan lewat pengocoran dilakukan seminggu sekali tiap lubang. Pupuk kocoran merupakan perbandingan campuran pupuk makro Urea : SP 36 : KCl : NASA = (250 : 250 : 250) gr dalam 50 liter ( 1 tong kecil) larutan. Diberikan umur 1 – 4 minggu dosis 250 cc/lubang, sedang umur 5-12 minggu dengan perbandingan pupuk makro Urea : TSP : KCl : NASA = (500 : 250 : 250) gr dalam 50 liter air, dengan dosis 500 cc/lubang. Kebutuhan total pupuk makro 1000 m2 :
Penyemprotan POC NASA ke tanaman dengan dosis 3-5 tutup / tangki pada umur 10, 20, kemudian pada umur 30, 40 dan 50 HST POC NASA + Hormonik dosis 1-2 tutup/tangki.
Perempelan, sisakan 2-3 cabang utama / produksi mulai umur 15 – 30 hr.

Pengamatan Hama dan Penyakit

● Penyakit Layu
Disebabkan beberapa jamur antara lain Fusarium, Phytium dan Rhizoctonia. Gejala serangan tanaman layu secara tiba-tiba, mengering dan gugur daun. Tanaman layu dimusnahkan dan untuk mengurangi penyebaran, sebarkan GLIO

● Penyakit Bercak Daun
Jamur ini menyerang pada musim hujan diawali pada daun tua bagian bawah. Gejala serangan berupa bercak dalam berbagai ukuran dengan bagian tengah berwarna abu-abu atau putih, kadang bagian tengah ini sobek atau berlubang. Daun menguning sebelum waktunya dan gugur, tinggal buah dan ranting saja. Akibatnya buah menjadi rusak karena terbakar sinar matahari. Pengamatan pada daun tua.

● Lalat Buah (Dacus dorsalis)
Gejala serangan buah yang telah berisi belatung akan menjadi keropos karena isinya dimakan, buah sering gugur muda atau berubah bentuknya. Lubang buah memungkinkan bakteri pembusuk mudah masuk sehingga buah busuk basah. Sebagai vektor Antraknose. Pengamatan ditujukan pada buah cabai busuk, kumpulkan dan musnahkan. Lalat buah dipantau dengan perangkap berbahan aktif Metil Eugenol 40 buah / ha

● Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Colletotrichum gloeosporioides)
Gejala serangan mula-mula bercak atau totol-totol pada buah yang membusuk melebar dan berkembang menjadi warna orange, abu-abu atau hitam. Bagian tengah bercak terlihat garis-garis melingkar penuh titik spora berwarna hitam. Serangan berat menyebabkan seluruh bagian buah mengering. Pengamatan dilakukan pada buah merah dan hijau tua. Buah terserang dikumpulkan dan dimusnahkan pada waktu panen dipisahkan. Serangan berat sebari dengan GLIO di bawah tanaman.

F. FASE PANEN DAN PASCA PANEN
1. Pemanenan
Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya.

Setelah pemetikan ke-3 disemprot dengan POC NASA + Hormonik dan dipupuk dengan perbandingan seperti diatas, dosis 500 cc/ph

2. Cara panen :
Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
Pemanenan yang baik pagi hari setelah embun kering
Penyortiran dilakukan sejak di lahan
Simpan ditempat yang teduh

3. Pengamatan Hama & Penyakit
Kumpulkan dan musnahkan buah yang busuk / rusak.

BVR SUPER AGEN HAYATI

Pestisida Hayati Natural BVR merupakan produk pengendali hama & penyakit tanaman dari PT. Natural Nusantara. Natural BVR efektif dan efisien terhadap hama sasaran, tidak mematikan musuh alami, selaras keseimbangan alam, mudah dan relatif murah, aman terhadap lingkungan, manusia dan hewan, mendukung program pertanian berkelanjutan.

Pestisida Organik Natural BVR masuk melalui mulut serangga hama, kemudian tumbuh dan berkembang menghancurkan sistem organ dari dalam. BVR menempel pada kulit hama dan mengeluarkan enzim (Kitinase, Protease, Lipase) untuk menghancurkan kulit. BVR mengeluarkan racun (Beauvericin, Beauveroilides, Asam oksalat) untuk membunuh hama. Miselium tumbuh secara progresif dan muncul badan buah berwarna putih pada hama yang mati, jika hama terinfeksi tersinggung hama sehat, maka hama akan tertulari, penularan dapat melalui angin. Kematian hama berkisar -/+ 4-8 hari setelah terinfeksi BVR.